Menari Bersama Sonne
Sebuah resensi dari M. Misdianto
Ketika untuk kesian kalinya aku beranjangsana ke tempat kesukaanku, toko buku, mataku bersirobok dengan buku karya Mas Andi Arsana ini. Yang pertama kali membuat suka dan jatuh hati adalah judulnya yang ditulis dengan huruf cukup besar dan berwarna merah mencolok dibandingkan dengan warna-warna birunya. “Cincin Merah di Barat Sonne”, suatu judul yang cukup menggelitik hatiku untuk mencoba mencari tahu makna di balik judul tersebut. Cincin Merah, apa itu? Yang tersirat dalam pikiranku ketika membaca judul itu, Cincin apakah yang berwarna merah yang pernah ada di dunia nyata ataupun fiksi ini ya? Apakah semacam cincin yang musti dimusnahkan di gunung berapi seperti yang dikisahkan dalam trilogi kesukaanku, “Lord of the Ring”-kah? Atau apa ya?
A Geospatial Novel? Why not!
Taken from ASM
I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such an enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.
CMBS untuk SBY
Sebuah buku dipersembahkan kepada Presiden SBY dalam kunjungan singkatnya ke Sydney. Terima kasih pada Bung Dino Patti Djalal atas kesediaannya mengakomodasi dan menyampaikan buku itu.
Kata Presiden PPIA Pusat
Dalam kolomnya, President Says, Miko Kamal, Presiden PPIA Pusat menuliskan kesannya terhadap buku Cincin Merah di Barat Sonne. Berikut petikannya yang diambil dari situs resmi PPIA Pusat.

Miko Kamal
Pada tanggal 19 February 2010 yang lalu, saya diminta Sdr. Andi Arsana (ketua PPIA Wollongong University) menjadi salah satu pembahas buku terbarunya, Cincin Merah di Barat Sonne. Sepertinya, Andi meminta saya menjadi salah seorang pembahas bukunya karena orang Wollongong yang satu ini ingin mendahulukan saya selangkah dan meninggikan seranting sebagai Presiden PPIA.
Sebagian besar isi buku ini saya nikmati dalam perjalanan Sydney menuju Honolulu, Hawai’i. Sebagiannya lagi saya selesaikan di sela-sela “the 9th International Graduate Conference on the Asia Pacific Region” yang dihelat oleh East-West Center di Honolulu Hawai’i, US pada tanggal 11-13 February 2010.
Memoar yang ditulis oleh Andi dengan gaya populer itu memuat pesan-pesan penting yang rasanya perlu saya bagi di sini.
Pertama, Andi benar dalam hal power of writing yang diceritakannya di halaman 24 tentang Prof. Hasyim Djalal sebagai ‘putra terakhir’ paka hukum laut Indonesia yang ditulisnya di the Jakarta Post. Cerita tentang power of writing amat bagus untuk menyemangati kita (terutama pelajar) untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Pengalaman saya sebagai penulis kampung membenarkan hal itu. Suatu ketika saya, sebagai seorang pengacara, mengunjungi sebuah rumah tahanan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Barat mengurus kepentingan seorang klien. Di penjara itu ternyata ada seorang petugas yang merupakan pembaca setia tulisan-tulisan saya yang dimuat di harian lokal. Petugas itu girang luar biasa manakala saya bersalaman dengannya sembari menyebutkan nama. Dia bilang, ‘ini Pak Miko yang sering menulis di koran kan?, saya sudah lama sekali ingin ketemu Pak Miko dan Alhamdulillah sekarang terujud, saya sampai termipi-mimpi saking inginnya ketemu Pak Miko’. Singkat cerita, sebagaimana dapat diduga, urusan saya jadi lancar di rumah tahanan itu karena power of writing. Luar biasa.
Kedua, cerita Andi tentang kesadaran dan kesalehan alamiah yang ditulisnya di halaman 47 juga megesankan saya. Di negeri kita banyak orang saleh dalam pengertian ritual, tapi kesalehan itu tak tergambar sedikitpun dalam kurenah hariannya. Sekadar contoh, banyak tetangga saya yang ibadahnya tak pernah sumbing tapi perilakunya asymmetry dengan ritual-ritual yang dilakukannya itu. Acapkali mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk mulai dari hal-hal kecil seumpama membuang sampah sembarangan, mengambil yang bukan haknya, sampai perbuatan maha buruk mengorupsi uang rakyat. Seperti yang tertangkap dalam buku Andi, rata-rata orang Australia memiliki kesadaran dan kesalehan alamiah. Dan ada fakta bahwa orang Indonesia yang berada di Australia pun ikut-ikutan soleh secara sosial, tapi sayangnya keadaan sering berubah 180 derajat manakala mereka balik lagi ke kampung asalnya. Fakta ini memunculkan tanya di kepala saya, akankah ini implementasi kongkrit dari mamangan ‘di kandang kambing membebek, di kandang harimau mengaum’. Entahlah.
Ketiga, Andi meletakkan dengan cukup baik tentang bagaimana seharusnya seorang warga sebuah bangsa (seperti pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia) di hadapan bangsa lainnya. Di halaman 53 Andi menuliskan kalimat tanya yang menurut saya amat mengena ‘Bukankah “aku” yang membangun citra sebuah bangsa?’ Pertanyaan ini tentu berbeda maknanya dengan slogan ‘right or wrong is my country’ yang populer pada masa rezim orde baru berjaya. Pada masa itu, pemerintah mempergunakan slogan tersebut sebagai alas untuk menutup mulut siapa saja yang tidak bersetuju dengan kebijakan pemerintah; suka atau tidak suka, harus tetap suka karena kebijakan itu keluar dari rahim pemerintahan sah secara hukum. Andi, menurut saya, mencoba menjulurkan garis pemisah antara antara penguasa atau kuli negara dengan negara itu sendiri. Kuli negara boleh saja dikritik atau disalahkan karena perilaku atau kebijakannya yang tidak pantas, akan tetapi setiap warga negara harus berjuang penuh membangun citra negaranya di mata orang lain.
Tidak bermaksud berpromosi (karena Andi tidak membayar saya untuk itu, kecuali sebuah buku gratis), yang belum membaca ‘Cincin Merah di Barat Sonne’, bergegaslah membaca; di dalamnya terkandung cukup banyak pelajaran, baik pelajaran teknis kegeodesian (bidang keahlian Andi) yang sesungguhnya rumit tapi ditulis sederhana maupun pelajaran dalam meneruka kehidupan sehari-hari.
Selamat membaca.
Sydney, March 5, 2010.
President Miko Kamal
CMBS di ASM Magazine
Berita tentang CMBS yang ditayangkan oleh The Jakarta Globe kini dilansir oleh ASM Magazine. Berikut cuplikannya dalam bentuk gambar.
CMBS di The Jakarta Globe
The Science of Storytelling Across an Archipelago
by Ade Mardiyati
Even though Indonesia is an archipelago made up of more than 17,000 islands, it seems that maritime-related issues are not popularly discussed. This is what motivated Balinese author I Made Andi Arsana to dedicate most of his writings to the topic, the author revealed during an interview in Wollongong, Australia, where he is currently based.
Having published three books and numerous articles on maritime issues, Andi chronicles his journey from December 2008 to early last year on the German ship Sonne (The Sun) in his latest book, “Cincin Merah di Barat Sonne” (“The Sunset from Sonne”). The research ship set sail on the Indian Ocean from Perth, Western Australia.
Andi said that the words cincin merah (red ring) refers to the sunset. The book combines popular writing and science with technical terms like geodesy or geomatics, terms that may come off as intimidating to unfamiliar readers. However, Andi has managed to break down the jargon in how he explains things, making the book both an easy yet substantial read.
Andi is a doctoral candidate majoring in ocean affairs and the law of the sea at the University of Wollongong. He is also a lecturer at the Gadjah Mada University in Yogjakarta.
In his book, the author explores various topics. He certainly talks about science, but also weaves in education, cultural differences, beliefs, even romance, into the text. The 32-year-old writes the book using his personal perspective — as a village boy who grew up in Bali and is now living and studying abroad.
Andi is honest in his narrative and does not sound like he’s showing off his experiences. He is able to describe things that are new to him and compare them to what he had back home.
But he does not do so in a way that puts Indonesia down. Rather, it comes across as him saying “I love Indonesia just the way it is.” He jokes about the nation’s shortcomings but does not directly criticize it.
In a chapter of the book, he talks about the birds flying free at Australia’s beaches and parks might actually be caught and served for dinner if they were found in Bali.
Andi’s writing style can be compared to a friend telling stories, certainly not a lecturer conducting a boring class.
In the beginning, the narrative may be a bit slow, thanks to very detailed descriptions. Andi opens the book by recalling how his wife and only daughter say goodbye to him before he leaves for his research trip. He describes how his wife Asti looks nervous because she has just recently learned how to drive a car. He even includes the manner in which he says goodbye to his daughter.
But this careful recounting succeeds in making the reader feel that they are on a journey with him.
Andi also talks about his religious beliefs as a Balinese Hindu using personal examples in parts of his narrative. He recalls the time when he and his family waited for a friend near a famous Sydney pub one Saturday morning.
A drunk, tattooed man came out of the pub holding liquor bottles and a paper food container.
Andi initially thought that the man had spent all of Friday night drinking with his buddies. To his surprise, he goes to the garbage bins and segregates the trash.
When some of the bottles break, the man even picks up the pieces and throws them into the appropriate bin. Andi concludes that being religious and following what religion requires is not enough. One also has to be able to do simple things for the common good, like segregating trash.
In the book, Andi touches on his line of study, but does so in a way that accessible. He explains in an engaging matter arcane terms such as swath mapping and multibeam echosounder — an activity mapping the seabed/seafloor by measuring the depth of the seabed.
He also describes how he communicates complex scientific topics to his parents, who both barely finished grade school.
The writing style and elements in the book are probably the reason why “Cincin Merah di Barat Sonne” is included in the nonfiction rather than the science section of major bookstores in Jakarta.
‘Cincin Merah di Barat Sonne’
Written by Andi Arsana
Indonesian language
272 pages, Rp 44,000 ($5)
Published by Lingkar Pena
Sebuah resensi pembaca
Diambil dari Blog Komang Andika
Saya baru saja selesai membaca Buku Cincin Merah di Barat Sonne, tulisan dari Andi Arsana. Beliau adalah seorang Dosen Teknik Geodesi UGM, dan sekarang sedang melaksanakan studi S3 di salah satu universitas di Australia, begitu saya baca di biografinya. Buku ini menceritakan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan survey dasar laut(landas kontinen) di tengah samudera Hindia.
Saya tergolong orang yang tidak begitu gemar membaca, malas mungkin tepatnya
Karena itulah, saya merasa kurang percaya diri ketika diminta(berniat) untuk mengomentari sebuah buku. Cincin Merah di Barat Sonne adalah sebuah buku yang inspiratif, menurut saya. Cara penuturan yang mengalir, membuat saya seakan menyaksikan secara langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kapal Sonne. Penulis yang menjelaskan bidang ilmunya dengan bahasa yang sederhana, merupakan nilai plus dari buku ini, setidaknya membuat saya tertarik dengan ilmu pemetaan dan batas laut. Cara penuturan yang kocak, namun tetap kritis, merupakan salah satu gaya tariknya. Saya pun sempat dibuat tegang ketika membaca Sonne yang karam. Saya juga terkesan dengan cara penulis memaknai hal-hal kecil yang terjadi disekitarnya.
Seperti pepatah mengatakan, tiada Sonne yang tak retak. Tentunya buku ini memiliki beberapa kekurangan yang menarik untuk diulas, saya berharap sastrawan-sastrawan dapat menemukan kekurangan di buku ini, yang tentunya akan menjadi evaluasi untuk Pak Andi kedepannya. Terlepas dari itu, niat Pak Andi untuk berbagi ilmu kepada kita semua, layak untuk diberikan penghormatan. Tulisan yang inspiratif! Terima kasih Pak Andi, semoga buku Cincin Merah di Barat Sonne bisa menginspirasi pembaca di seluruh Indonesia
Peluncuran di KJRI Sydney
Hari Jumat 19 Februari 2010, Konjen RI di Sydney menyelenggarakan acara yang tidak begitu lazim diadakan: Peluncuran Buku. Adalah buku karya dari I Made Andi Arsana, mahasiswa PhD di University of Wollongong (UoW) berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” yang diluncurkan pada sore yang cerah itu. Tidak tanggung-tanggung, acara istimewa itu dihadiri juga oleh Atase Pendidikan KBRI Australia, Prof. Aris Junaidi, DVM, Ph.D, yang datang secara khusus dari Canberra.





Buku ini mengungkap sisi lain dari perburuan ilmu pengetahuan. Isinya cerdas, kocak, mengharukan dan terutama inspiratif! - Najwa Shihab - Mata Najwa, Metro TV
Bravo! Great! Super! Seharusnya orang-orang yang lebih dulu dan lebih lama berkecimpung di dunia survei pemetaan dan data spasial – termasuk saya – juga lebih dulu dan lebih banyak melahirkan buku-buku, novel-novel dan kelak mungkin juga film-film – geospasial seperti ini.(Dr. Fahmi Amhar – Kepala Balai Penelitian Geomatika, Bakosurtanal & Peneliti Utama bidang Sistem Informasi Spasial)
Bli Andi memang seorang guru sejati. Jejak rasa cintanya terhadap keluarga, daerah asal, bangsa dan negara bertebaran di mana-mana dalam buku ini. Bli Andi adalah seorang idealis yang mempunyai rasa kebanggaan yang tinggi terhadap profesinya. Dengan membaca buku ini, akan terkuak lebih lebar lagi wawasan kita. (Sri Dean, Radio SBS Australia)