<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cincin Merah di Barat Sonne</title>
	<atom:link href="http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://andiarsana.com/cincin</link>
	<description>Petualangan mengarungi Samudra Hindia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Jun 2010 11:37:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>CMBS di Kompas</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=266</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=266#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 11:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/06/kompas-cmbs.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-265" title="kompas-cmbs" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/06/kompas-cmbs.png" alt="" width="344" height="564" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=266</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CMBS di Media Hindu</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=254</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=254#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 00:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Klik untuk mempebesar]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Klik untuk mempebesar</p>
<p><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/04/mh-blog.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-255" title="mh-blog" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/04/mh-blog-468x1024.jpg" alt="" width="468" height="1024" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=254</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menari Bersama Sonne</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=251</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=251#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 23:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah resensi dari M. Misdianto Ketika untuk kesian kalinya aku beranjangsana ke tempat kesukaanku, toko buku, mataku bersirobok dengan buku karya Mas Andi Arsana ini. Yang pertama kali membuat suka dan jatuh hati adalah judulnya yang ditulis dengan huruf cukup besar dan berwarna merah mencolok dibandingkan dengan warna-warna birunya. “Cincin Merah di Barat Sonne”, suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah resensi dari <a href="http://ekstra.kompasiana.com/group/resensi/2010/04/23/putra-bangsa-menari-dengan-irama-sonne/" target="_blank">M. Misdianto</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/04/dian.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-252" title="dian" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/04/dian-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" /></a>Ketika untuk kesian kalinya aku beranjangsana ke tempat kesukaanku, toko buku, mataku bersirobok dengan buku karya Mas Andi Arsana ini. Yang pertama kali membuat suka dan jatuh hati adalah judulnya yang ditulis dengan huruf cukup besar dan berwarna merah mencolok dibandingkan dengan warna-warna birunya. “Cincin Merah di Barat Sonne”, suatu judul yang cukup menggelitik hatiku untuk mencoba mencari tahu makna di balik judul tersebut. Cincin Merah, apa itu? Yang tersirat dalam pikiranku ketika membaca judul itu, Cincin apakah yang berwarna merah yang pernah ada di dunia nyata ataupun fiksi ini ya? Apakah semacam cincin yang musti dimusnahkan di gunung berapi seperti yang dikisahkan dalam trilogi kesukaanku, <strong><em>“Lord of the Ring”</em></strong>-kah? Atau apa ya?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-251"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Sonne, apalagi itu? Terlintas dalam benakku, Sonne ini pasti merupakan bagian dari nama seseorang dari Eropa sana, Jerman mungkin? Atau ini berarti sesuatu dalam bahasa asing? Atau dia nama tempatkah?</p>
<p style="text-align: justify;">Pandanganku kemudian beradu dengan tulisan kecil yang merupakan pujian dari Mbak Najwa Shihab yang terpampang di halaman depan membuat semangkin tertarik untuk membawanya pulang dan membuka lembar demi lembarnya dan tenggelam berpetualang di dalamnya. Kata Mbak Najwa</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><em>Isinya cerdas. kocak, mengharukan dan terutama, inspiratif!</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah akhirnya aku membawanya pulang dan mengurungkan niatku untuk membeli mengenai duniaku, dunia penerbangan &#8211; sebuah kumpulan blog di kompasiana dari mantan seorang petinggi TNI-AU yang aktif menulis juga. Tak sabar rasanya aku untuk <em>nyemplung</em> ke dalam Sonne…</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian awal dari buku ini menceritakan bagaimana penulis bisa mendapatkan anugrah menjadi salah satu mahasiswa dari <em>Universite de la Mer</em> atau <em>University of the Sea</em>. Perjalanan dimulai dengan moda transportasi yang berbeda-beda, dari kereta api, pesawat udara dan akhirnya menari dengan Sonne. Di bagian ini penulis, saya juga setuju dengan pendapatnya, menyatakan keheranannya mengapa ia harus pergi jauh ke negeri dan kota yang gersang seperti Perth hanya untuk belajar. Suatu kondisi alam yang amat berbeda dengan Indonesia yang mungkin hijau royo-royo. Bahkan dalam lagunya Koes Plus-pun dikatakan bahwa, Indonesia tak punya lautan, hanya kolam susu. Tanahnyapun tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman… Yang menyedihkan lagi,</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Mengapa anak bangsa dari negeri yang subur seperti Indonesia harus diberi sedekah beasiswa oleh negeri padang pasir ini untuk bersekolah?</p>
<p>Astaghfirullah……</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh mendalam, penulis menjelaskan bagaimana caranya kita bisa melukis dasar samudra atau bahasa teknisnya pemetaan dasar laut, <em>“Swath Mapping”</em> atau <em>“Batimetri”</em>. Proses ini dilakukan dengan mempergunakan alat bernama <em>echosounder</em> dengan <em>multibeam</em>. Disini terlihat kejelian penulis bahwa tidak semua pembaca paham bagaimana caranya alat ini bekerja. Penulis, Bli Andi, mencoba menjelaskannya dengan sangat sederhana dan logika sederhana dengan menganalogikannya pada orang kebanyakan. Disini ia mengumpamakan bahwa dia ingin tahu jarak Tabanan &#8211; Denpasar. Maka ia bisa naik motor dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam. Jika ia berangkat jam 10:00 pagi dan tiba kembali jam 12:00 maka jarak tempuhnya adalah 2 jam pergi pulang. Sehingga didapatkan jarak Tabanan &#8211; Denpasar adalah 40 km/jam X 2 jam : 2 = 40 km khan? Ringkas tapi mengena. <strong>Bravo untuk Bli Andi!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada awalnya kehadiran seorang ahli hukum laut seperti Bli Andi ini cukup mengundang pertanyaan banyak orang. Untuk apa seorang ahli hukum laut di kapal super canggih ini? Namun, akhirnya pilihan untuk mengikut sertakan Bli Andi dalam pelayaran ini banyak memberikan dan juga menerima ilmu pengetahuan dari sesama mahasiswa University of the Sea, dan di akhir buku, semua mengakui, pilihan menghadirkan Bli Andi adalah tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh ya, Sonne itu sendiri sebenarnya adalah sebuah kapal laut penelitian buatan Jerman yang dijejali dengan berbagai fasilitas canggih Universite de la Mer. Dan ternyata Cincin Merah itu adalah bentuk mentari yang sedang tenggelam di ufuk Barat cakrawala, dimana ia terlihat seperti sebuah cincin berwarna merah indah…</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu banyak hal-hal baru yang aku dapatkan ketika berlayar bersama Sonne. Ya, dengan membaca buku ini, akupun seolah-olah terbawa ke dalam Sonne dan ikut bahu membahu dengan Bli Andi dalam petualangannya. Aku hanyut sehanyutnya dan sangat menikmatinya dan rasanya tak sabar untuk kembali berlayar dengan Sonne. Aku ikut bergoyang dan menari dengan Sonne, tapi untunglah aku tak sampai terkena mabuk laut, suatu hal yang hingga akhir pelayaran masih diderita oleh penulis (<em>poor him</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari buku ini selain dari hukum laut dan melukis dasar samudra. Disini juga diajarkan bahwa walaupun kita melakukan penelitian ini untuk kebaikan, tidak lupa mereka berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjaga kelestarian alam. Salah satu contohnya adalah mengamati mamalia laut. Tidak ada satupun kru dari Sonne yang tidak suka melakukannya, karena kegiatan ini gampang dilakukan, tanpa perlu berpikir, berada di bridgepun sangatlah menarik. Selama proses penelitian diharapkan tidak terlihat adanya mamalia laut yang tampak di permukaan, walaupun mereka sebenarnya terlihat beberapa di LEG 1, dan salah satu hewan yang diamati adalah Ikan Paus. Ketidak munculan Ikan Paus di permukaan adalah pertanda semuanya baik-baik saja.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Konon khabarnya gelombang yang dipancarkan untuk mengukur dasar laut dapat mengganggu paus dan lumba-lumba, dan ini tidak diperkenankan oleh lembaga lingkungan terkait. Jika terlihat adanya paus dan lumba-lumba, dapat disimpulkan bahwa mereka terganggu dengan gelombang dengan gelombang yang dipancarkan dari kapal. Hal ini dikarenakan paus dan lumba-lumba memang memiliki kemampuan untuk menangkap gelombang yang tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Disini kita diajarkan bahwa dengan alasan apapun, tidak seharusnya kita, umat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna ciptaan-Nya untuk mengganggu makhluk lainnya. Toleransi tinggi sangat dijunjung oleh para ilmuwan ini dan membuatku jadi berpikir ulang, apakah Aku sudah begitu?</p>
<p style="text-align: justify;">Akhiru kalam, aku sangat merekomendasikan buku ini bagi siapapun yang ingin menambah wawasannya, terlebih lagi untuk para nelayan atau siapapun. Karena dengan memahami hukum laut dan batas landas kontinen, kita akan lebih sadar sedang dimana kita ini dan agar tidak melanggar batas wilayah suatu negara. Suatu hal yang saat ini menjadi perdebatan sengit, apakah masih diperlukan batas negara di era Internet ini? Dimana batas-batas itu boleh dibilang sudah hampir tak ada?</p>
<p style="text-align: justify;">Oh ya, nanti kalau sudah mengarungi bahtera dengan Sonne, jangan lupa untuk mampir di halaman Facebooknya ya, yang ada di sini : <a href="http://www.facebook.com/pages/Cincin-Merah-di-Barat-Sonne/259762253043" target="_blank">Cincin Merah di Barat Sonne</a>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>–Menjelang Jum’atan di bulan April yang indah–</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=251</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Geospatial Novel? Why not!</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=246</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=246#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 15:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Taken from ASM I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such an enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Taken from <a href="http://www.asmmag.com/features/a-geospatial-novel-why-not-" target="_blank">ASM</a></p>
<p style="text-align: justify;">I am a big fan of futuristic movies. I also enjoy science-based stories. It is amazing to watch serials such as Grey’s anatomy or ER, which delivers health-related theme in such an enjoyable serials. Numbers is also a good serials presenting math in a not-boring way. I am fascinated by those who are able to present complicated matters in enjoyable stories, such as movies, serials, novel, etc. Why cannot I write a geospatial novel? That is my question since quite a long time ago.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-246"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Now, let us go back a while. When I was a first or second year in Geodetic Engineering in Gadjah Mada University in Indonesia, the question that I did not really like is “what is your major?” I did not like it because I found out after sometimes, that kind of question required me to talk about at least five minutes before the person stopped asking more questions. Interestingly, the person usually stopped not because he or she was satisfied, but mostly because he or she got confused. Oh, I wished I was a medical student. Such kind of question would need only three seconds for me not only to answer, but also to amaze the person.</p>
<p style="text-align: justify;">What is geodetic engineering? This is the next question I usually received after my first answer to what is your major? The conversation could then be very long. That was the starting point when I challenge myself to do something to popularise the discipline of geodetic engineering and geospatial issues in general. A novel was my aim. If somebody else can produce a good serial with complicated and fancy medical terms and scenes in it, a surveyor like me should be able to write an engaging story about geospatial issues.</p>
<p style="text-align: justify;">In December 2008, I got an opportunity to be involved in an ocean survey. I was in the ocean for about a month, with very limited connection with the outside world. No Facebook, that’s for sure! We could only access email with very limited quota. Life could be boring because we also had around 5-6 hours of free time during shift. I was in the night shift. To kill the time, I started writing journal, documenting my invaluable experience. Surprisingly, it turned into a 65000-word journal only in three weeks. When I read it, it was not bad, I thought.</p>
<p style="text-align: justify;">The nearly 300-page of story covers divers range of topics but mainly mapping, biological science, and life experience. The draft managed to present not-very-popular topic such as GPS, GIS and bathymetry in a popular manner. I told a story about GPS through an engaging conversation of a kid and his uncle, a fisherman who found his way in the ocean through the guidance of stars. I explain the principle of bathymetry by a story of a boy taught by his grandfather how to fathom the depth of a river in a small village in Bali. I talk about web mapping through a genius project I called “a geospatial diary”.</p>
<p style="text-align: justify;">It took much longer time to publish than to write. After one year of struggle, a reasonable good publisher agreed to publish the draft. Not as a novel, but as a memoir. Mid January 2010, exactly one year after my journey in the Indian Ocean, the book was finally published. It is in Bahasa Indonesia entitled “Cincin Merah di Barat Sonne” which literary means “The Red Ring from the West of Sonne”. What I mean by the title is “The Sunset from Sonne”. Yes, the red ring represents the sunset.</p>
<p style="text-align: justify;">I am not in the position to judge its quality but at least I have lived my dream and it is now up to the readers to judge. I have to admit that I have received quite a lot of positive comments from the readers. Most of them are geospatial people, while some others are the laymen. All comments have been posted in the website: www.andiarsana.com/cincin. My hope is simple: the book can fill the absence of popular geospatial books in Indonesia. Should it be able to boost the popularity of geospatial discipline as I dreamed, it may be a different story which I will consider as a bonus.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Written by Andi Arsana, Geodesy and Geomatics, Gadjah Mada University, Indonesia</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=246</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CMBS untuk SBY</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=235</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=235#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 22:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah buku dipersembahkan kepada Presiden SBY dalam kunjungan singkatnya ke Sydney. Terima kasih pada Bung Dino Patti Djalal atas kesediaannya mengakomodasi dan menyampaikan buku itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah buku dipersembahkan kepada Presiden SBY dalam kunjungan singkatnya ke Sydney. Terima kasih pada Bung Dino Patti Djalal atas kesediaannya mengakomodasi dan menyampaikan buku itu.</p>
<p><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/03/cmbs-sby.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-236" title="cmbs-sby" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/03/cmbs-sby.jpg" alt="" width="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=235</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Presiden PPIA Pusat</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=232</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=232#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 10:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kolomnya, President Says, Miko Kamal, Presiden PPIA Pusat menuliskan kesannya terhadap buku Cincin Merah di Barat Sonne. Berikut petikannya yang diambil dari situs resmi PPIA Pusat. Pada tanggal 19 February 2010 yang lalu, saya diminta Sdr. Andi Arsana (ketua PPIA Wollongong University) menjadi salah satu pembahas buku terbarunya, Cincin Merah di Barat Sonne. Sepertinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam kolomnya, President Says, Miko Kamal, Presiden PPIA Pusat menuliskan kesannya terhadap buku Cincin Merah di Barat Sonne. Berikut petikannya yang diambil dari <a href="http://www.ppi-australia.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=426:meneruskan-pesan-andi-arsana-di-cincin-merah-di-barat-sonne-&amp;catid=46:president&amp;Itemid=273" target="_blank">situs resmi PPIA Pusat</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><img src="http://www.ppi-australia.org/images/pengurus/miko.jpg" alt="" width="120" height="149" /><p class="wp-caption-text">Miko Kamal</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 19 February 2010 yang lalu, saya diminta Sdr. Andi Arsana (ketua PPIA Wollongong University) menjadi salah satu pembahas buku terbarunya, Cincin Merah di Barat Sonne. Sepertinya, Andi meminta saya menjadi salah seorang pembahas bukunya karena orang Wollongong yang satu ini ingin mendahulukan saya selangkah dan meninggikan seranting sebagai Presiden PPIA.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sebagian besar isi buku ini saya nikmati dalam perjalanan Sydney menuju Honolulu, Hawai’i. Sebagiannya lagi saya selesaikan di sela-sela “the 9th International Graduate Conference on the Asia Pacific Region” yang dihelat oleh East-West Center di Honolulu Hawai’i, US pada tanggal 11-13 February 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Memoar yang ditulis oleh Andi dengan gaya populer itu memuat pesan-pesan penting yang rasanya perlu saya bagi di sini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, Andi benar dalam hal power of writing yang diceritakannya di halaman 24 tentang Prof. Hasyim Djalal sebagai ‘putra terakhir’ paka hukum laut Indonesia yang ditulisnya di the Jakarta Post. Cerita tentang power of writing amat bagus untuk menyemangati kita (terutama pelajar) untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Pengalaman saya sebagai penulis kampung membenarkan hal itu. Suatu ketika saya, sebagai seorang pengacara, mengunjungi sebuah rumah tahanan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Barat mengurus kepentingan seorang klien. Di penjara itu ternyata ada seorang petugas yang merupakan pembaca setia tulisan-tulisan saya yang dimuat di harian lokal. Petugas itu girang luar biasa manakala saya bersalaman dengannya sembari menyebutkan nama. Dia bilang, ‘ini Pak Miko yang sering menulis di koran kan?, saya sudah lama sekali ingin ketemu Pak Miko dan Alhamdulillah sekarang terujud, saya sampai termipi-mimpi saking inginnya ketemu Pak Miko’. Singkat cerita, sebagaimana dapat diduga, urusan saya jadi lancar di rumah tahanan itu karena power of writing. Luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, cerita Andi tentang kesadaran dan kesalehan alamiah yang ditulisnya di halaman 47 juga megesankan saya. Di negeri kita banyak orang saleh dalam pengertian ritual, tapi kesalehan itu tak tergambar sedikitpun dalam kurenah hariannya. Sekadar contoh, banyak tetangga saya yang ibadahnya tak pernah sumbing tapi perilakunya asymmetry dengan ritual-ritual yang dilakukannya itu. Acapkali mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk mulai dari hal-hal kecil seumpama membuang sampah sembarangan, mengambil yang bukan haknya, sampai perbuatan maha buruk mengorupsi uang rakyat. Seperti yang tertangkap dalam buku Andi, rata-rata orang Australia memiliki kesadaran dan kesalehan alamiah. Dan ada fakta bahwa orang Indonesia yang berada di Australia pun ikut-ikutan soleh secara sosial, tapi sayangnya keadaan sering berubah 180 derajat manakala mereka balik lagi ke kampung asalnya. Fakta ini memunculkan tanya di kepala saya, akankah ini implementasi kongkrit dari mamangan ‘di kandang kambing membebek, di kandang harimau mengaum’. Entahlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, Andi meletakkan dengan cukup baik tentang bagaimana seharusnya seorang warga sebuah bangsa (seperti pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia) di hadapan bangsa lainnya. Di halaman 53 Andi menuliskan kalimat tanya yang menurut saya amat mengena ‘Bukankah “aku” yang membangun citra sebuah bangsa?’ Pertanyaan ini tentu berbeda maknanya dengan slogan ‘right or wrong is my country’ yang populer pada masa rezim orde baru berjaya. Pada masa itu, pemerintah mempergunakan slogan tersebut sebagai alas untuk menutup mulut siapa saja yang tidak bersetuju dengan kebijakan pemerintah; suka atau tidak suka, harus tetap suka karena kebijakan itu keluar dari rahim pemerintahan sah secara hukum. Andi, menurut saya, mencoba menjulurkan garis pemisah antara antara penguasa atau kuli negara dengan negara itu sendiri. Kuli negara boleh saja dikritik atau disalahkan karena perilaku atau kebijakannya yang tidak pantas, akan tetapi setiap warga negara harus berjuang penuh membangun citra negaranya di mata orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak bermaksud berpromosi (karena Andi tidak membayar saya untuk itu, kecuali sebuah buku gratis), yang belum membaca ‘Cincin Merah di Barat Sonne’, bergegaslah membaca; di dalamnya terkandung cukup banyak pelajaran, baik pelajaran teknis kegeodesian (bidang keahlian Andi) yang sesungguhnya rumit tapi ditulis sederhana maupun pelajaran dalam meneruka kehidupan sehari-hari.<br />
Selamat membaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Sydney, March 5, 2010.<br />
President Miko Kamal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=232</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CMBS di ASM Magazine</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=229</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=229#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 10:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Berita tentang CMBS yang ditayangkan oleh The Jakarta Globe kini dilansir oleh ASM Magazine. Berikut cuplikannya dalam bentuk gambar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berita tentang CMBS yang ditayangkan oleh The Jakarta Globe kini dilansir oleh ASM Magazine. Berikut cuplikannya dalam bentuk gambar.</p>
<p><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/03/asm.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-230" title="asm" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/03/asm.png" alt="" width="600" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=229</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CMBS di The Jakarta Globe</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=224</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=224#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 13:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[The Science of Storytelling Across an Archipelago by Ade Mardiyati Even though Indonesia is an archipelago made up of more than 17,000 islands, it seems that maritime-related issues are not popularly discussed. This is what motivated Balinese author I Made Andi Arsana to dedicate most of his writings to the topic, the author revealed during [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>The Science of Storytelling Across an Archipelago</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><em>by Ade Mardiyati</em></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/the-science-of-storytelling-across-an-archipelago/362664" target="_blank"><img class="alignleft" src="http://www.thejakartaglobe.com/templates/jakartaGlobe/images/jakarta-globe.gif" alt="" width="300" height="48" /></a>Even though Indonesia is an archipelago made up of more than 17,000 islands, it seems that maritime-related issues are not popularly discussed. This is what motivated Balinese author I Made Andi Arsana to dedicate most of his writings to the topic, the author revealed during an interview in Wollongong, Australia, where he is currently based.</p>
<p style="text-align: justify;">Having published three books and numerous articles on maritime issues, Andi chronicles his journey from December 2008 to early last year on the German ship Sonne (The Sun) in his latest book, “Cincin Merah di Barat Sonne” (“The Sunset from Sonne”). The research ship set sail on the Indian Ocean from Perth, Western Australia.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi said that the words cincin merah (red ring) refers to the sunset. The book combines popular writing and science with technical terms like geodesy or geomatics, terms that may come off as intimidating to unfamiliar readers. However, Andi has managed to break down the jargon in how he explains things, making the book both an easy yet substantial read.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi is a doctoral candidate majoring in ocean affairs and the law of the sea at the University of Wollongong. He is also a lecturer at the Gadjah Mada University in Yogjakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">In his book, the author explores various topics. He certainly talks about science, but also weaves in education, cultural differences, beliefs, even romance, into the text. The 32-year-old writes the book using his personal perspective — as a village boy who grew up in Bali and is now living and studying abroad.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi is honest in his narrative and does not sound like he’s showing off his experiences. He is able to describe things that are new to him and compare them to what he had back home.</p>
<p style="text-align: justify;">But he does not do so in a way that puts Indonesia down. Rather, it comes across as him saying “I love Indonesia just the way it is.” He jokes about the nation’s shortcomings but does not directly criticize it.</p>
<p style="text-align: justify;">In a chapter of the book, he talks about the birds flying free at Australia’s beaches and parks might actually be caught and served for dinner if they were found in Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi’s writing style can be compared to a friend telling stories, certainly not a lecturer conducting a boring class.</p>
<p style="text-align: justify;">In the beginning, the narrative may be a bit slow, thanks to very detailed descriptions. Andi opens the book by recalling how his wife and only daughter say goodbye to him before he leaves for his research trip. He describes how his wife Asti looks nervous because she has just recently learned how to drive a car. He even includes the manner in which he says goodbye to his daughter.</p>
<p style="text-align: justify;">But this careful recounting succeeds in making the reader feel that they are on a journey with him.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi also talks about his religious beliefs as a Balinese Hindu using personal examples in parts of his narrative. He recalls the time when he and his family waited for a friend near a famous Sydney pub one Saturday morning.</p>
<p style="text-align: justify;">A drunk, tattooed man came out of the pub holding liquor bottles and a paper food container.</p>
<p style="text-align: justify;">Andi initially thought that the man had spent all of Friday night drinking with his buddies. To his surprise, he goes to the garbage bins and segregates the trash.</p>
<p style="text-align: justify;">When some of the bottles break, the man even picks up the pieces and throws them into the appropriate bin. Andi concludes that being religious and following what religion requires is not enough. One also has to be able to do simple things for the common good, like segregating trash.</p>
<p style="text-align: justify;">In the book, Andi touches on his line of study, but does so in a way that accessible. He explains in an engaging matter arcane terms such as swath mapping and multibeam echosounder — an activity mapping the seabed/seafloor by measuring the depth of the seabed.</p>
<p style="text-align: justify;">He also describes how he communicates complex scientific topics to his parents, who both barely finished grade school.</p>
<p style="text-align: justify;">The writing style and elements in the book are probably the reason why “Cincin Merah di Barat Sonne” is included in the nonfiction rather than the science section of major bookstores in Jakarta.<br />
‘Cincin Merah di Barat Sonne’</p>
<p style="text-align: justify;">Written by Andi Arsana</p>
<p style="text-align: justify;">Indonesian language</p>
<p style="text-align: justify;">272 pages, Rp 44,000 ($5)</p>
<p style="text-align: justify;">Published by Lingkar Pena</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=224</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah resensi pembaca</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=209</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=209#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 21:59:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari Blog Komang Andika Saya baru saja selesai membaca Buku Cincin Merah di Barat Sonne, tulisan dari Andi Arsana. Beliau adalah seorang Dosen Teknik Geodesi UGM, dan sekarang sedang melaksanakan studi S3 di salah satu universitas di Australia, begitu saya baca di biografinya. Buku ini menceritakan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan survey dasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Diambil dari Blog <a href="http://mangandika.wordpress.com/2010/02/18/cincin-merah-di-barat-sonne/" target="_blank">Komang Andika</a></p>
<p style="text-align: justify;">Saya baru saja selesai membaca Buku <em>Cincin Merah di Barat Sonne</em>, tulisan dari Andi Arsana. Beliau adalah seorang Dosen Teknik Geodesi UGM, dan sekarang sedang melaksanakan studi S3 di salah satu universitas di Australia, begitu saya baca di biografinya. Buku ini menceritakan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang melakukan survey dasar laut(landas kontinen) di tengah samudera Hindia.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tergolong orang yang tidak begitu gemar membaca, malas mungkin tepatnya <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> Karena itulah, saya merasa kurang percaya diri ketika diminta(<em>berniat</em>) untuk mengomentari sebuah buku. Cincin Merah di Barat Sonne adalah sebuah buku yang inspiratif, menurut saya. Cara penuturan yang mengalir, membuat saya seakan menyaksikan secara langsung peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kapal Sonne. Penulis yang menjelaskan bidang ilmunya dengan bahasa yang sederhana, merupakan nilai plus dari buku ini, setidaknya membuat saya tertarik dengan ilmu pemetaan dan batas laut. Cara penuturan yang kocak, namun tetap kritis, merupakan salah satu gaya tariknya. Saya pun sempat dibuat tegang ketika membaca Sonne yang karam.  Saya juga terkesan dengan cara penulis memaknai hal-hal kecil yang terjadi disekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti pepatah mengatakan, tiada Sonne yang tak retak. Tentunya buku ini memiliki beberapa kekurangan yang menarik untuk diulas, saya berharap sastrawan-sastrawan dapat menemukan kekurangan di buku ini, yang tentunya akan menjadi evaluasi untuk Pak Andi kedepannya. Terlepas dari itu, niat Pak Andi untuk berbagi ilmu kepada kita semua, layak untuk diberikan penghormatan. Tulisan yang inspiratif! Terima kasih Pak Andi, semoga buku Cincin Merah di Barat Sonne bisa menginspirasi pembaca di seluruh Indonesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=209</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peluncuran di KJRI Sydney</title>
		<link>http://andiarsana.com/cincin/?p=182</link>
		<comments>http://andiarsana.com/cincin/?p=182#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 11:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cincin Merah</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://andiarsana.com/cincin/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat 19 Februari 2010, Konjen RI di Sydney menyelenggarakan acara yang tidak begitu lazim diadakan: Peluncuran Buku. Adalah buku karya dari I Made Andi Arsana, mahasiswa PhD di University of Wollongong (UoW) berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” yang diluncurkan pada sore yang cerah itu. Tidak tanggung-tanggung, acara istimewa itu dihadiri juga oleh Atase [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-184" title="10" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/10.jpg" alt="" width="510" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Hari Jumat 19 Februari 2010, Konjen RI di Sydney menyelenggarakan acara yang tidak begitu lazim diadakan: Peluncuran Buku. Adalah buku karya dari I Made Andi Arsana, mahasiswa PhD di University of Wollongong (UoW) berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” yang diluncurkan pada sore yang cerah itu. Tidak tanggung-tanggung, acara istimewa itu dihadiri juga oleh Atase Pendidikan KBRI Australia, Prof. Aris Junaidi, DVM, Ph.D, yang datang secara khusus dari Canberra.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-182"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_185" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/2.jpg"><img class="size-full wp-image-185" title="2" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/2.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Pak Kiki, Pak Raja (KJRI) Prof. Aris Junaedi (Atase Pendidikan) dan Pak Sudaryomo (Konjen RI Sydney)</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam acara ini hadir tidak kurang dari 30 orang dari Sydney, Wollongong dan Canberra yang mengikuti acara dengan antusias. Bertindak sebagai pembawa acara adalah Selvie Sinaga, mahasiswa PhD Fakultas Hukum UoW, yang membawakan acara dengan santai namun menarik dan interaktif. Dalam sambutannya, Bapak Konjen RI, Sudaryomo Hartosudarmo, menyampaikan apresiasinya kepada penulis atas keberhasilannya menerbitkan buku. Menariknya, Bapak Sudaryomo bisa dengan rinci membahas isi buku karena memang sudah membaca dengan cermat. Beliau mengutip bagian-bagian menarik dari buku dan memberikan komentar. Bapak Sudaryomo menegaskan bahwa keberhasilan Andi, demikian dia biasa dipanggil, dalam menerbitkan sebuah buku di tengah kesibukan menyelesaikan S3 adalah sesuatu yang luar biasa. Beliau menyetujui pandangan Andi dengan mengutip kalimat yang dibaca langsung dari buku bahwa akan ”sia-sia kalau pengetahuan itu tidak disebarkan kepada khalayak melalui publikasi tulisan.” Dengan ini Bapak Konjen juga mengajak hardirin, terutama pelajar, untuk menghasilkan karya-karya selama menuntut ilmu. Bapak Sudaryomo juga dengan fasih berkomentar tentang kelucuan, perihal cinta, dan nasionalisme yang sangat kental dalam buku karya Andi Arsana ini, selain kandungan ilmiahnya. Akhirnya beliau secara resmi meluncurkan buku yang berjudul ”Cincin Merah di Barat Sonne” yang diikuti oleh hentakan animasi cover buku di layar peraga, dan disambut tepuk tangan meriah hadirin.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/6.jpg"><img class="size-full wp-image-186" title="6" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/6.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Tari legong oleh Asti Palupi, hiburan dalam peluncuran</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam pemaparannya, Andi Arsana menyampaikan bahwa buku ini merupakan catatan perjalanan atau memoar selama terlibat dalam penelitian dan pemetaan dasar laut (landas kontinen) di Samudra Hindia. Meskipun konteks waktunya adalah penelitian yang serius, buku ini mengandung sangat banyak unsur-unsur humanis yang jauh dari istilah teknis keilmuan dan penelitian, demikian paparnya. Andi secara ringkas menyampaikan isi buku, mulai dari yang lucu, aneh, nasionalis dan juga romantis. Digambarkannya secara gamblang perpaduan antara catatan perjalanan, pergulatan keilmuan, dan cinta dalam buku itu. Dia menegaskan, inspirasi atau motivasi sesungguhnya datang saat menyaksikan novel, buku, atau media populer lainnya yang berhasil menghadirkan disiplin ilmu yang rumit menjadi mudah dipahami. Hal ini yang membuatnya bertanya, apakah tidak mungkin membuat satu buku populer tentang disiplin geospasial yang ditekuninya selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_187" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/7.jpg"><img class="size-full wp-image-187" title="7" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/7.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Andi Arsana memaparkan karyanya</p></div>
<p style="text-align: justify;">Setelah pemaparan Andi sebagai penulis, komentar pembahasan disampaikan oleh tiga pembahas yaitu Dr. Maria Retnanestri (peneliti pos doktoral di University of New South Wales), Miko Kamal (Ketua PPIA Pusat, Kandidat Doktor di Macquarie University) dan Asep Permana (Geolog, mahasiswa pascasarjana Unievrsity of New South Wales). Dr Retnanestri, menyampaikan pembahasannya pertama kali dengan sangat rinci. Catatannya lengkap, menunjukkan bahwa beliau telah membaca buku tersebut dengan sangat detil. Diungkapnya berbagai fakta kecil yang tersebar di buku itu, baik yang lucu, mengharukan, menegangkan maupun yang inspiratif. Dr. Retnanestri mengungkapkan bahwa kekuatan buku ini adalah pada kemampuannya menjelaskan persoalan keilmuan yang rumit dengan gamblang melalui analogi dan percakapan ringan. Yang paling disoroti oleh Dr. Retnanestri adalah keberhasilan penulis menjaga stamina dan energi penulisan sehingga semangat yang terasa di bab pertama tetap bisa dirasakan hingga bab terakhir, membuat pembaca memiliki ketertarikan yang tetap tinggi dari awal hingga akhir. Dr. Retnanestri dengan fasih mengutip banyak sekali hal-hal detil dari buku itu, baik itu percakapan, kejadian, perdebatan dan lain-lain dan kemudian memaknainya. Baginya, buku ini sangatlah lengkap, memuat hampir semua hal yang disajikan dengan menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_188" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/1.jpg"><img class="size-full wp-image-188" title="1" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/1.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Interaksi penulis dan pembahas</p></div>
<p style="text-align: justify;">Miko Kamal memberikan komentarnya dengan menyampaikan beberapa poin penting. Sebelumnya dia mengungkapkan bahwa buku itu dibacanya dalam perjalanan dari Sydney ke Honolulu di Hawai untuk tujuan konferensi. ”Membaca buku ini selama perjalanan, membuat perjalanan yang lama itu terasa singkat” demikian katanya memulai komentarnya. Pandangan Andi di bukunya tentang the power of writing atau kekuatan sebuah tulisan menjadi perhatian Miko yang pertama. Dia setuju bahwa menulis itu memiliki kekuatan luar biasa. Hal kedua yang disorotinya adalah kemampuan Andi mengungkapkan atau membahasakan ulang gagasan Abdul Munir Mulkan tentang kesadaran atau kesalehan alamiah. Menurutnya, Andi mengungkapkan dengan cerdas fenomena ketekunan orang dalam menjalankan ritual agama tetapi tidak diikuti dengan kesadaran bersahabat dengan alam. Kekhusukan berdoa tanpa disertai kebiasaan membuang sampai di tempatnya, misalnya, tetap tidak akan mengindarkan manusia dari banjir, demikian Miko membahasakan ulang ulasan Andi di bukunya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_189" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/8.jpg"><img class="size-full wp-image-189" title="8" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/8.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta yang antusias</p></div>
<p style="text-align: justify;">Setuju dengan Dr. Retnanestri, Miko juga berpendapat bahwa buku ini mampu menyampaikan hal-hal rumit perihal keilmuan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Dia yang disiplinnya jauh sekali dari geospasial akhirnya bisa mendapat gambaran umum yang sangat jelas, demikian ungkapnya. Miko menyoroti keberhasilan Andi menyajikan nasionalisme dengan cara baru, tidak menggurui sekaligus tidak terkesan klise. Buku ini menggugah rasa nasionalisme dengan cara yang sangat elegan. Miko Kamal juga menyampaikan bahwa ada satu bagian menegangkan dari buku itu yang membuatnya sangat khawatir saat membaca, yaitu ketika terjadi pembicaraan cukup serius soal agama Islam di Bali. ”Saya sangat khawatir dan tegang serta penasaran, bagaimana Andi akan bersikap dalam diskusi yang sensitif ini” demikian katanya bersemangat. ”Syukurlah, Andi menyelesaikan perbincangan soal agama yang cukup sensitif itu dengan sebuah kalimat singkat yang sangat elegan.” kata Miko dengan wajah cerah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_190" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/9.jpg"><img class="size-full wp-image-190" title="9" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/9.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta yang serius <img src='http://andiarsana.com/cincin/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p></div>
<p style="text-align: justify;">Pembahas terakhir adalah Asep Permana yang secara disiplin keilmuan paling dekat dengan Andi Arsana yang seorang surveyor/geodesist. Asep adalah seorang geolog yang ternyata pernah menghabiskan waktu di Kapal yang sama, Sonne, untuk tujuan penelitian. ”Membaca buku ini membuat saya terbawa kembali dalam kegiatan penelitian saya” kata Asep memberi komentar. Menurutnya, buku ini berhasil menghadirkan ingatannya tentang Sonne dan segala kegiatannya dengan sangat baik sehingga dia merasa berada di kapal itu lagi. Asep juga menyoroti pandangan penulis dan sikapnya terhadap keluarga, terutama istri dan anaknya. Asep yang juga merasakan hal serupa, merasa buku ini benar-benar tepat menggambarkan perasaan dan situasi dia. Asep mengatakan ”Buku ini kena banget untuk saya!” Selain terkait nilai-nilai keluarga dan geosain, Asep juga tertarik dengan cara Andi Arsana membahas isu nasionalisme yang sangat menggugah tanpa menggurui.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_191" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/4.jpg"><img class="size-full wp-image-191" title="4" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/4.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Foto bersama</p></div>
<p style="text-align: justify;">Begitu acara dibuka untuk tanya jawab, bermunculanlah tangan di udara untuk mengajukan pertanyaan maupun sekedar komentar. Taruna Mulia, dari UNSW, misalnya tidak bertanya tetapi memberikan apresiasi kepada penulis atas keberhasilannya mengangkat isu kelautan, geospasial, kedaulatan dan sejenisnya dalam bentuk populer. Hal ini juga senada dengan komentar dari Rasyid dari University of Wollongong yang adalah seorang Perwira TNI AL.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_192" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/3.jpg"><img class="size-full wp-image-192" title="3" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/3.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama Penulis (dan keluarga), Pejabat Konjen/KBRI, Pembahas </p></div>
<p style="text-align: justify;">Iccha Dahri, seorang mahasiswa PhD dari UoW merasa komentar dari pembahas semuanya positif, dia menanyakan adakah hal negatif yang bisa ditingkatkan dari buku. Selanjutnya dia merasa bingung untuk memasukkan buku ini dalam klasifikasi tertentu. Menanggapi ini, ketiga pembahas kembali menyampaikan pandangannya dan ketiganya bersepakat bahwa buku ini telah berhasil mencapai tujuannya. Masalah klasifikasi dan kelemahan setiap pembaca tentu memiliki pandangan sendiri, demikian Dr. Retnanestri menaggapi. Sementara itu, Andi sendiri memberikan autokritik terhadap buku ini bahwa di sana terdapat cukup banyak kesalahan tulis. Ini, katanya, adalah karena naskah ini diselesaikan dalam waktu cepat dan penyunting tidak berhasil menemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan. Soal kategori, Andi mengatakan bahwa Lingkar Pena menyebutnya sebagai buku Non Fiksi – Inspirasi. Menariknya, masih menurut Andi, beberapa Gramedia di Indonesia menempatkan buku ini dalam seksi Best Seller di raknya dan ada juga yang mengelompokkannya dalam novel.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_193" class="wp-caption aligncenter" style="width: 520px"><a href="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/5.jpg"><img class="size-full wp-image-193" title="5" src="http://andiarsana.com/cincin/wp-content/uploads/2010/02/5.jpg" alt="" width="510" /></a><p class="wp-caption-text">Foto khusus dengan pasukan UoW</p></div>
<p style="text-align: justify;">Andi juga mendapat beberapa pertanyaan teknis tentang mengelola ide menjadi tulisan, strategi pemilihan tema buku termasuk cara menjaga stamina dari Emma dan Leon (UoW). Andi menjelaskan bahwa baginya menulis haruslah tuntas, meskipun tidak harus panjang. Menyelesaikan satu kalimat singkat tetapi tuntas, lebih baik daripada memiliki ide cemerlang yang masih mengawang-awang atau masih di kepala. Jika urusan kuantitas, itu bisa ditingkatkan seriring waktu dan latihan, demikian dia menyampaikan pengalamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Garda Paripurna, mahasiswa Fakultas Hukum UoW, juga memberikan apresiasi kepada penulis dengan memberi satu catatan terhadap penggunaan beberapa istilah di buku tersebut. Istilah &#8216;pangkalan BBM&#8217; misalnya yang digunakan penulis di buku itu, mungkin perlu ditinjau keakuratannya. Selain itu, ada masukan positif tentang kemungkinan buku ini memuat banyak hal yang mungkin bisa dipilihdan diterbitkan dalam publikasi berbeda. Sambil berkelakar, Garda menyampaikan bahwa dengan begitu, Andi bisa memiliki lebih banyak publikasi berbeda. &#8220;Secara marketing, mungkin ini lebih menguntungkan&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu apresiasi yang baik diberikan oleh Prof. Aris Junaedi, bahwa keberhasilan menulis sebuah buku adalah prestasi yang patut ditiru. Prof. Aris meyatakan bahwa belum banyak ilmuwan di Indonesia yang mau dan mampu menghasilkan tulisan pengalaman populer tentang keilmuannya. Beliau juga menyoroti tentang pentingnya sebuah endersement dalam sebuah buku dan mengapresiasi buku Cincin Merah di Barat Sonne yang di-endorse oleh Najwa Shihab.</p>
<p style="text-align: justify;">Acara peluncuran buku ini berakhir dengan pembagian buku gratis sebanyak 22 buku yang disediakan oleh Penerbit Lingkar Pena. Setelah pembagian buku tentu saja disertai dengan penandatanganan buku dan berfoto bersama. Peserta peluncuran buku, pembahas dan pihak KJRI Sydney mengakhir acara pada pukul 6 sore dan semua segera bertolak ke kediaman masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://andiarsana.com/cincin/?feed=rss2&amp;p=182</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
