CMBS di National Geographic

oleh: Danu Pujiachiri (National Geographic)

Saat mengadakan kegiatan Workshop Pemetaan di Yogyakarta, kami banyak dibantu oleh banyak pihak. Baik tempat, bantuan tenaga, kendaraan hingga barang. Ya, kegiatan tersebut memang kerjasama antara NGI dan komunitas pembaca. Saling bantu guna terwujudnya acara, NGI memfasilitasi.

Salah satu kebutuhan saat itu adalah hadiah untuk dibagikan saat diskusi. Akhirnya, saya ingat seseorang yang baru saja menerbitkan buku “Cincin Merah di Barat Sonne”, I Made Andi Arsana. Seorang dosen di UGM yang sedang mengenyam pendidikan di negara tetangga, Australia. Buku ini pun, bercerita mengenai kehidupan Mas Andi di sana, terutama saat melakukan penelitan sebulan penuh mengarungi samudera.

Saya telah mengenal Mas Andi sekitar 5 tahun, namun belum pernah sekali pun langsung bertemu. Agak sungkan, saya hubungi Mas Andi lewat chat, maka hadirlah sepuluh buku di meja kantor dua hari kemudian. Dan butuh waktu seminggu untuk saya menyelesaikan membacanya. Bukan karena tebalnya buku namun lebih pada buku ini memang harus dinikmati. Bukan hanya buku mengenai pemetaan, namun lebih pada “memoar geospasial” — mengutip ungkapan sang pengarang.

Membaca buku ini seperti membangkitkan gairah kita untuk belajar, keinginan untuk mencari ilmu pengetahuan. Dibawakan dengan gaya bercerita blog yang disisipi nilai-nilai yang, menurut saya, perlu dimiliki seorang peneliti. Rasa ingin tau yang menggelora.

Banyak bagian yang menyentuh dan mungkin kita kerap merasakannya juga, dan hebatnya Mas Andi dapat mengungkapkannya. Bagian yang paling menarik untuk saya adalah “lentera jiwa”. Bagian yang bercerita bagaiamana seorang insan yang dibenturkan pada pilihan untuk mementingkan bekerja sebagai teknisi atau akademisi. Yang tentu saja, di Indonesia, akan jauh berbeda dalam jumlah penghasilan. Begitu memikat hingga hampir saja halte tempat saya turun terlewat, saat membacanya di Trans Jakarta.

Memang, buku ini tidak sepenuhnya tentang pemetaan alasan mengapa saya pilih menjadi hadiah di workshop tersebut, namun pilihan saya tidak salah. Hanya sedikit ilmu mengenai pemetaan di dalamnya, yang mungkin untuk orang yang bergerak dipemetaan sudah tau. Namun, ajakan untuk terus mengenal dunia lah yang penting dalam buku ini. Bukankah buku yang baik adalah buku yang menggerakan?

Jarang sekali buku mengenai informasi keruangan dan pemetaan karya ilmuan Indonesia, yang tidak bersifathow to. Terakhir kali saya membaca buku jenis itu adalah “Merintis Geomatika di Indonesia” karya Pak Jacub Rais. Ya, mungkin saya yang kurang mencari dan update.  Semoga ke depannya, makin banyak buku mengenai geospasial karya penulis lokal.

Share This Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply