Peluncuran di KJRI Sydney

Hari Jumat 19 Februari 2010, Konjen RI di Sydney menyelenggarakan acara yang tidak begitu lazim diadakan: Peluncuran Buku. Adalah buku karya dari I Made Andi Arsana, mahasiswa PhD di University of Wollongong (UoW) berjudul “Cincin Merah di Barat Sonne” yang diluncurkan pada sore yang cerah itu. Tidak tanggung-tanggung, acara istimewa itu dihadiri juga oleh Atase Pendidikan KBRI Australia, Prof. Aris Junaidi, DVM, Ph.D, yang datang secara khusus dari Canberra.

Pak Kiki, Pak Raja (KJRI) Prof. Aris Junaedi (Atase Pendidikan) dan Pak Sudaryomo (Konjen RI Sydney)

Dalam acara ini hadir tidak kurang dari 30 orang dari Sydney, Wollongong dan Canberra yang mengikuti acara dengan antusias. Bertindak sebagai pembawa acara adalah Selvie Sinaga, mahasiswa PhD Fakultas Hukum UoW, yang membawakan acara dengan santai namun menarik dan interaktif. Dalam sambutannya, Bapak Konjen RI, Sudaryomo Hartosudarmo, menyampaikan apresiasinya kepada penulis atas keberhasilannya menerbitkan buku. Menariknya, Bapak Sudaryomo bisa dengan rinci membahas isi buku karena memang sudah membaca dengan cermat. Beliau mengutip bagian-bagian menarik dari buku dan memberikan komentar. Bapak Sudaryomo menegaskan bahwa keberhasilan Andi, demikian dia biasa dipanggil, dalam menerbitkan sebuah buku di tengah kesibukan menyelesaikan S3 adalah sesuatu yang luar biasa. Beliau menyetujui pandangan Andi dengan mengutip kalimat yang dibaca langsung dari buku bahwa akan ”sia-sia kalau pengetahuan itu tidak disebarkan kepada khalayak melalui publikasi tulisan.” Dengan ini Bapak Konjen juga mengajak hardirin, terutama pelajar, untuk menghasilkan karya-karya selama menuntut ilmu. Bapak Sudaryomo juga dengan fasih berkomentar tentang kelucuan, perihal cinta, dan nasionalisme yang sangat kental dalam buku karya Andi Arsana ini, selain kandungan ilmiahnya. Akhirnya beliau secara resmi meluncurkan buku yang berjudul ”Cincin Merah di Barat Sonne” yang diikuti oleh hentakan animasi cover buku di layar peraga, dan disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Tari legong oleh Asti Palupi, hiburan dalam peluncuran

Dalam pemaparannya, Andi Arsana menyampaikan bahwa buku ini merupakan catatan perjalanan atau memoar selama terlibat dalam penelitian dan pemetaan dasar laut (landas kontinen) di Samudra Hindia. Meskipun konteks waktunya adalah penelitian yang serius, buku ini mengandung sangat banyak unsur-unsur humanis yang jauh dari istilah teknis keilmuan dan penelitian, demikian paparnya. Andi secara ringkas menyampaikan isi buku, mulai dari yang lucu, aneh, nasionalis dan juga romantis. Digambarkannya secara gamblang perpaduan antara catatan perjalanan, pergulatan keilmuan, dan cinta dalam buku itu. Dia menegaskan, inspirasi atau motivasi sesungguhnya datang saat menyaksikan novel, buku, atau media populer lainnya yang berhasil menghadirkan disiplin ilmu yang rumit menjadi mudah dipahami. Hal ini yang membuatnya bertanya, apakah tidak mungkin membuat satu buku populer tentang disiplin geospasial yang ditekuninya selama ini.

Andi Arsana memaparkan karyanya

Setelah pemaparan Andi sebagai penulis, komentar pembahasan disampaikan oleh tiga pembahas yaitu Dr. Maria Retnanestri (peneliti pos doktoral di University of New South Wales), Miko Kamal (Ketua PPIA Pusat, Kandidat Doktor di Macquarie University) dan Asep Permana (Geolog, mahasiswa pascasarjana Unievrsity of New South Wales). Dr Retnanestri, menyampaikan pembahasannya pertama kali dengan sangat rinci. Catatannya lengkap, menunjukkan bahwa beliau telah membaca buku tersebut dengan sangat detil. Diungkapnya berbagai fakta kecil yang tersebar di buku itu, baik yang lucu, mengharukan, menegangkan maupun yang inspiratif. Dr. Retnanestri mengungkapkan bahwa kekuatan buku ini adalah pada kemampuannya menjelaskan persoalan keilmuan yang rumit dengan gamblang melalui analogi dan percakapan ringan. Yang paling disoroti oleh Dr. Retnanestri adalah keberhasilan penulis menjaga stamina dan energi penulisan sehingga semangat yang terasa di bab pertama tetap bisa dirasakan hingga bab terakhir, membuat pembaca memiliki ketertarikan yang tetap tinggi dari awal hingga akhir. Dr. Retnanestri dengan fasih mengutip banyak sekali hal-hal detil dari buku itu, baik itu percakapan, kejadian, perdebatan dan lain-lain dan kemudian memaknainya. Baginya, buku ini sangatlah lengkap, memuat hampir semua hal yang disajikan dengan menarik.

Interaksi penulis dan pembahas

Miko Kamal memberikan komentarnya dengan menyampaikan beberapa poin penting. Sebelumnya dia mengungkapkan bahwa buku itu dibacanya dalam perjalanan dari Sydney ke Honolulu di Hawai untuk tujuan konferensi. ”Membaca buku ini selama perjalanan, membuat perjalanan yang lama itu terasa singkat” demikian katanya memulai komentarnya. Pandangan Andi di bukunya tentang the power of writing atau kekuatan sebuah tulisan menjadi perhatian Miko yang pertama. Dia setuju bahwa menulis itu memiliki kekuatan luar biasa. Hal kedua yang disorotinya adalah kemampuan Andi mengungkapkan atau membahasakan ulang gagasan Abdul Munir Mulkan tentang kesadaran atau kesalehan alamiah. Menurutnya, Andi mengungkapkan dengan cerdas fenomena ketekunan orang dalam menjalankan ritual agama tetapi tidak diikuti dengan kesadaran bersahabat dengan alam. Kekhusukan berdoa tanpa disertai kebiasaan membuang sampai di tempatnya, misalnya, tetap tidak akan mengindarkan manusia dari banjir, demikian Miko membahasakan ulang ulasan Andi di bukunya.

Peserta yang antusias

Setuju dengan Dr. Retnanestri, Miko juga berpendapat bahwa buku ini mampu menyampaikan hal-hal rumit perihal keilmuan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Dia yang disiplinnya jauh sekali dari geospasial akhirnya bisa mendapat gambaran umum yang sangat jelas, demikian ungkapnya. Miko menyoroti keberhasilan Andi menyajikan nasionalisme dengan cara baru, tidak menggurui sekaligus tidak terkesan klise. Buku ini menggugah rasa nasionalisme dengan cara yang sangat elegan. Miko Kamal juga menyampaikan bahwa ada satu bagian menegangkan dari buku itu yang membuatnya sangat khawatir saat membaca, yaitu ketika terjadi pembicaraan cukup serius soal agama Islam di Bali. ”Saya sangat khawatir dan tegang serta penasaran, bagaimana Andi akan bersikap dalam diskusi yang sensitif ini” demikian katanya bersemangat. ”Syukurlah, Andi menyelesaikan perbincangan soal agama yang cukup sensitif itu dengan sebuah kalimat singkat yang sangat elegan.” kata Miko dengan wajah cerah.

Peserta yang serius :)

Pembahas terakhir adalah Asep Permana yang secara disiplin keilmuan paling dekat dengan Andi Arsana yang seorang surveyor/geodesist. Asep adalah seorang geolog yang ternyata pernah menghabiskan waktu di Kapal yang sama, Sonne, untuk tujuan penelitian. ”Membaca buku ini membuat saya terbawa kembali dalam kegiatan penelitian saya” kata Asep memberi komentar. Menurutnya, buku ini berhasil menghadirkan ingatannya tentang Sonne dan segala kegiatannya dengan sangat baik sehingga dia merasa berada di kapal itu lagi. Asep juga menyoroti pandangan penulis dan sikapnya terhadap keluarga, terutama istri dan anaknya. Asep yang juga merasakan hal serupa, merasa buku ini benar-benar tepat menggambarkan perasaan dan situasi dia. Asep mengatakan ”Buku ini kena banget untuk saya!” Selain terkait nilai-nilai keluarga dan geosain, Asep juga tertarik dengan cara Andi Arsana membahas isu nasionalisme yang sangat menggugah tanpa menggurui.

Foto bersama

Begitu acara dibuka untuk tanya jawab, bermunculanlah tangan di udara untuk mengajukan pertanyaan maupun sekedar komentar. Taruna Mulia, dari UNSW, misalnya tidak bertanya tetapi memberikan apresiasi kepada penulis atas keberhasilannya mengangkat isu kelautan, geospasial, kedaulatan dan sejenisnya dalam bentuk populer. Hal ini juga senada dengan komentar dari Rasyid dari University of Wollongong yang adalah seorang Perwira TNI AL.

Bersama Penulis (dan keluarga), Pejabat Konjen/KBRI, Pembahas

Iccha Dahri, seorang mahasiswa PhD dari UoW merasa komentar dari pembahas semuanya positif, dia menanyakan adakah hal negatif yang bisa ditingkatkan dari buku. Selanjutnya dia merasa bingung untuk memasukkan buku ini dalam klasifikasi tertentu. Menanggapi ini, ketiga pembahas kembali menyampaikan pandangannya dan ketiganya bersepakat bahwa buku ini telah berhasil mencapai tujuannya. Masalah klasifikasi dan kelemahan setiap pembaca tentu memiliki pandangan sendiri, demikian Dr. Retnanestri menaggapi. Sementara itu, Andi sendiri memberikan autokritik terhadap buku ini bahwa di sana terdapat cukup banyak kesalahan tulis. Ini, katanya, adalah karena naskah ini diselesaikan dalam waktu cepat dan penyunting tidak berhasil menemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan. Soal kategori, Andi mengatakan bahwa Lingkar Pena menyebutnya sebagai buku Non Fiksi – Inspirasi. Menariknya, masih menurut Andi, beberapa Gramedia di Indonesia menempatkan buku ini dalam seksi Best Seller di raknya dan ada juga yang mengelompokkannya dalam novel.

Foto khusus dengan pasukan UoW

Andi juga mendapat beberapa pertanyaan teknis tentang mengelola ide menjadi tulisan, strategi pemilihan tema buku termasuk cara menjaga stamina dari Emma dan Leon (UoW). Andi menjelaskan bahwa baginya menulis haruslah tuntas, meskipun tidak harus panjang. Menyelesaikan satu kalimat singkat tetapi tuntas, lebih baik daripada memiliki ide cemerlang yang masih mengawang-awang atau masih di kepala. Jika urusan kuantitas, itu bisa ditingkatkan seriring waktu dan latihan, demikian dia menyampaikan pengalamannya.

Garda Paripurna, mahasiswa Fakultas Hukum UoW, juga memberikan apresiasi kepada penulis dengan memberi satu catatan terhadap penggunaan beberapa istilah di buku tersebut. Istilah ‘pangkalan BBM’ misalnya yang digunakan penulis di buku itu, mungkin perlu ditinjau keakuratannya. Selain itu, ada masukan positif tentang kemungkinan buku ini memuat banyak hal yang mungkin bisa dipilihdan diterbitkan dalam publikasi berbeda. Sambil berkelakar, Garda menyampaikan bahwa dengan begitu, Andi bisa memiliki lebih banyak publikasi berbeda. “Secara marketing, mungkin ini lebih menguntungkan” katanya.

Satu apresiasi yang baik diberikan oleh Prof. Aris Junaedi, bahwa keberhasilan menulis sebuah buku adalah prestasi yang patut ditiru. Prof. Aris meyatakan bahwa belum banyak ilmuwan di Indonesia yang mau dan mampu menghasilkan tulisan pengalaman populer tentang keilmuannya. Beliau juga menyoroti tentang pentingnya sebuah endersement dalam sebuah buku dan mengapresiasi buku Cincin Merah di Barat Sonne yang di-endorse oleh Najwa Shihab.

Acara peluncuran buku ini berakhir dengan pembagian buku gratis sebanyak 22 buku yang disediakan oleh Penerbit Lingkar Pena. Setelah pembagian buku tentu saja disertai dengan penandatanganan buku dan berfoto bersama. Peserta peluncuran buku, pembahas dan pihak KJRI Sydney mengakhir acara pada pukul 6 sore dan semua segera bertolak ke kediaman masing-masing.

Share This Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply