Dari Dermaga
Dalam sebuah pelayaran, dermaga menjadi suatu tempat untuk memulai, sekaligus mengakhiri perjalanan. Bagi pembaca, tulisan yang sedang Anda baca adalah titik awal, maka dari itu saya menyebutnya pesan dari dermaga. Sementara itu, saya membuat tulisan ini paling akhir ketika beristirahat dan membaca ulang apa yang telah ditulis. Inipun adalah dermaga, sebuah titik akhir sebuah perjalanan, untuk menilai, berintrospeksi dan kemudian meneruskan perjalanan yang nampaknya masih jauh.
Ketika memulai penulisan ini, saya tidak membayangkan cerita saya akhirnya akan terbit menjadi sebuah buku. Tulisan ini, awalnya benar-benar adalah catatan perjalanan biasa yang saya buat ketika menjadi salah satu anggota tim peneliti yang melakukan survei di Samudera Hindia. Bagi saya, perjalanan ini sangat istimewa dan penting sehingga perlu untuk diabadikan. Selain itu, pelajaran teknis di dalamnya pun luar biasa. Untuk kepentingan itulah, awalnya, catatan ini saya buat di sela-sela kesibukan terombang-ambing di kapal Sonne milik Jerman di Samudra Hindia.
Di tengah perjalanan, catatan pribadi ini berkembang menjadi sebuah kisah yang berhasil merekam banyak sekali kejadian yang tidak saja penting tetapi juga menarik. Saat itulah kali pertama muncul angan-angan untuk menerbitkannya menjadi buku. Akhirnya saya tidak hanya memasukkan kejadian yang saya alami di atas kapal tetapi juga angan-angan, idealisme, mimpi dan harapan yang dikemas dalam bentuk lamunan atau ingatan pada masa lalu. Dalam waktu yang tidak lebih dari tiga minggu saya ternyata berhasil menyelesaikan sebuah manuskrip yang terdiri dari sekitar 65 ribu kata. Kalau saja kata-kata dan kalimat itu adalah bagian dari sebuah disertasi, tentu perjalanan menuju doktor sebentar lagi akan berakhir.
Karena dimaksudkan untuk diterbitkan, saya menyamarkan nama beberapa orang yang ada dalam buku ini untuk melindungi kehidupan pribadi mereka, terutama yang berasal dari luar negeri. Alasan utamanya, tentu saja karena saya tidak ingin membuat mereka terkejut. Mereka tentu tidak pernah membayangkan keterlibatan mereka dalam penelitian kelautan ini akan dibukukan oleh seseorang. Meski demikian, tentu saja saya tidak menyamarkan nama orang-orang dalam keluarga sendiri. Tentu aneh kalau saya menyamarkan nama Asti dan Lita yang adalah istri dan anak sendiri. Intinya, kejadian yang digambarkan dalam buku ini adalah kisah nyata dengan tokoh yang mungkin disamarkan namanya. Jika ada nama hasil samaran ini yang kebetulan sama dengan tokoh sebenarnya, tentu saja itu kebetulan belaka. Kenyataannya memang tidak mudah membuat nama samaran yang belum dipakai sama sekali. Terutama kalau nama yang disamarkan lebih dari 20 orang.
Bab-bab dalam buku ini merekam kejadian tertentu atau gagasan yang saya formulasikan dalam bentuk cerita. Kadang ada satu bab yang mengisahkan kejadian di luar kapal namun relevan dengan konteks buku secara umum. Kadang ada kisah yang ditampilkan dalam bentuk mimpi dan lamunan namun sesungguhnya berisi gagasan saya yang masih terkait tema besar yang diusung buku ini. Di dalamnya saya hadirkan banyak kisah menarik. Saya memadukan perjuangan mahasiswa di luar negeri, dana survei laut yang menelan dana sama dengan biaya kuliah 800 mahasiswa Indonesia di Teknik Geodesi selama 5 tahun, suka duka peneliti Indonesia, konflik cinta dan keluarga, persahabatan, perselisihan dan persaingan. Topik yang lucu, heroik, konyol dan bahkan idealis diramu dalam sebuah catatan perjalanan. Memang disarankan untuk membaca buku ini dari awal hingga akhir meskipun bukan tidak mungkin untuk langsung melompat pada satu bab tertentu yang bersifat relatif independen.
Sesungguhnya ada banyak sekali orang yang berjasa dalam penerbitan buku ini. Maka dari itu, saat harus menulis ucapan terima kasih, saya khawatir kalau-kalau lupa menyebut nama seseorang yang berjasa. Meskipun sulit, toh saya tetap harus menyampaikan terima kasih ini. Semoga tidak ada yang kecewa kerena namanya lupa saya sebut. Itu terjadi bukan karena mereka kurang jasanya tetapi semata-mata saya yang teledor. Di halaman ini saya tidak akan menyebutkan nama orang-orang yang sudah saya sebutkan dalam buku karena menyebutkan namanya di buku sekaligus berarti saya menghargai peran mereka.
Saya dipertemukan dengan Lingkar Pena oleh Mbak Intan Savitri, yang saya kenal dari Dr. Neila Ramdhani. Kepada kedua orang ini, saya menyampaikan terima kasih yang tulus. Saya juga berterima kasih kepada Farid Yuniar, mantan murid yang sudah saya anggap teman, atas usulan judul yang akhirnya dipakai untuk buku ini. Cincin Merah di Barat Sonne dimaksudkan untuk menggambarkan matahari yang akan terbenam di sebelah barat Kapal Sonne, menghadirkan nuansa jingga yang memesona. Lingkaran matahari yang merah ibarat cincin yang bersinar, cahayanya memantul di permukaan samudera. Judul ini ingin mengabadikan pengalaman mengamati merahnya senja di sela-sela tanggung jawab penelitian dan pelayaran.
Meskipun buku ini saya tujukan untuk semua orang, saya tetaplah seorang surveyor yang tidak bisa menghindarkan diri dari urusan peta dan isu kebumian. Mungkin itulah sebabnya saya menuliskan cukup banyak hal teknis kebumian dalam buku ini yang tentu saja disajikan sepopuler mungkin. Ketika membaca manuskripnya, tidak sedikit kawan yang berkomentar bahwa salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menyajikan hal-hal teknis terkait dunia pemetaan dalam bahasa yang mudah dicerna. Pembaca mungkin tidak akan sadar telah belajar tentang astronomi, global positioning system, sistem informasi geografis dan bahkan teknologi pemetaan laut. Di saat lain, fenomena, kejadian dan pemaknaan dihadirkan dengan bahasa sastra yang sarat simbol. Di sela-sela itu, pembaca kadang dibawa dalam penjelajahan yang menegangkan, saat bahaya seperti menjadi teman sehari-hari. Saya ingin mengajak pembaca menyelami banyak dimensi tak terungkap sebuah perburuan ilmu pengetahuan.
Tanpa perlu dikatakan, buku ini memang jauh dari sempurna, meskipun upaya optimal telah saya usahakan. Karena merekam pengalaman pribadi, nilai yang saya paparkan tentu tidak berlaku universal bagi semua orang. Meski demikian, semoga ada pembaca yang bisa menarik pelajaran. Saya berharap pembaca dapat menyempurnakan segala ketidaksempurnaan yang ada dalam buku ini. Jika berkenan memberi masukan, tentu saja akan sangat berguna bagi penyempurnaan karya saya di masa depan. Selamat melayari kehidupan yang luas sambail membaca.
Desa Tegaljadi, Pertengahan Desember 2009
Buku ini mengungkap sisi lain dari perburuan ilmu pengetahuan. Isinya cerdas, kocak, mengharukan dan terutama inspiratif! - Najwa Shihab - Mata Najwa, Metro TV
Bravo! Great! Super! Seharusnya orang-orang yang lebih dulu dan lebih lama berkecimpung di dunia survei pemetaan dan data spasial – termasuk saya – juga lebih dulu dan lebih banyak melahirkan buku-buku, novel-novel dan kelak mungkin juga film-film – geospasial seperti ini.(Dr. Fahmi Amhar – Kepala Balai Penelitian Geomatika, Bakosurtanal & Peneliti Utama bidang Sistem Informasi Spasial)
Bli Andi memang seorang guru sejati. Jejak rasa cintanya terhadap keluarga, daerah asal, bangsa dan negara bertebaran di mana-mana dalam buku ini. Bli Andi adalah seorang idealis yang mempunyai rasa kebanggaan yang tinggi terhadap profesinya. Dengan membaca buku ini, akan terkuak lebih lebar lagi wawasan kita. (Sri Dean, Radio SBS Australia)